kepemimpinan

Tiru Kepemimpinan Seorang Pengemis. Sebelum Membuka Usaha.

Kepemimpinan seorang pengemis – Mungkin terbesit di benak pembaca, apa yang spesial dari seorang pengemis. Pekerjaan yang mungkin dilarang oleh agama, bisa saja spesial dari sudut pandang kepemimpinan.

Namun, bukan sisi gelapnya yang akan kita hakimi. Lalu sikap seperti apa yang akan kita dapat dari seorang pengemis? Simak dan pahami dengan hati yang tenang..

Pengemis adalah pekerjaan yang paling profesional. Sebab mereka melakukan peranannya sebagai orang “miskin” secara apik dari segi tampilan dan tujuan.

Dimana kita semua tahu tujuan utama mereka yaitu mendapatkan uang dari belas kasihan orang lain. Sampai disini apakah kalian mulai memahami jobdesk mereka?

Aspek Kepemimpinan 

Oke kita bahas satu-persatu, mereka adalah orang-orang yang sangat disiplin, datang tepat waktu, pulang pun tepat waktu, berdandan pun tepat waktu. Dimana aspek kedisiplinan ini pun sangat penting dalam sebuah kepemimpinan.

Mereka memiliki fisik yang kuat. Bagaimana tidak, hujan panas pun mereka tetap berada di jalanan ramai, berjalan kaki dari lampu merah ke lampu merah. Dari satu toko ke toko lain, bahkan ada yang sampai rela menggendong anak.

Semua orang sepakat, salah satu faktor kesuksesan adalah ketahanan fisik. Hal ini diperlukan agar kita bisa memiliki performa yang optimal dalam bekerja.

Untuk itu, mereka yang terbiasa hidup di jalanan mempunyai skor ketahanan fisik lebih unggul daripada kita yang dimanjakan dengan banyak kemudahan.

Seorang pengemis selalu fokus pada tujuan, mereka hanya mencari orang yang mau memberikan mereka uang. Diejek dan dicemooh dengan kalimat apapun, mereka tidak akan memikirkan hal itu.

Istilah jaman sekarang yaitu baper (bawa perasaan). Mereka sama sekali tidak membawa perasaan dalam bekerja. Bayangkan jika mereka baper, 1 hari kerja pasti sudah pensiun jadi pengemis.

Mental mereka sudah pasti terlatih. Dikejar petugas, sudah pasti besok bakalan balik lagi atau mencari tempat lain yang tidak ada petugasnya.

Semua orang juga sepakat, orang sukses selalu mempunyai banyak jalan. Orang gagal selalu mempunyai banyak alasan.

Dari semua jobdesk pengemis yang kami paparkan tersebut hanyalah sebatas “peran”. Setelah mereka pulang, terlihatlah karakter asli mereka.

Mungkin sebagian mereka memiliki kelebihan harta. Atau mungkin memang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Teori Kepemimpinan Dasar

Oke.. lupakan pengemis. Ingat profesionalitasnya dalam menjalankan peran..

Sama halnya dalam pekerjaan kita. Menjalani “peran” sebagaimana tugas dan tanggungjawab yang kita bawa, adalah sikap kepemimpinan yang baik.

Tentu apapun pekerjaan kita sudah melalui pertimbangan dan keputusan yang terbaik. Setelah kita memutuskan untuk bekerja sebagai kurir misalnya, jadilah seorang kurir dengan peranan yang sebagaimana mestinya.

Begitupun ketika kita memutuskan menjadi seorang pengusaha, berperanlah sebagaimana seorang pengusaha yang hebat. Jangan berfikir seperti karyawan biasa.

Itulah teori kepemimpinan dasar, bertanggungjawab dari apa yang telah kita pilih, walaupun kita tidak menyukai pekerjaannya, setidaknya kita melakukan tugas tersebut dengan profesional.

Peran vs Jati Diri

Peran bukan untuk merubah siapa kita sebenarnya, tapi untuk bersikap netral dari apa yang diharapkan oleh hati. Mengedepankan logika dalam aturan main yang berlaku.

Menjadi diri sendiri ditengah dunia sosial atau dunia kerja, ibarat menjadi telur bebek ditengah telur ayam. Membuat kita mudah dibidik dan disingkirkan.

Bukan untuk berkompromi pada kesesatan. Peran bisa merubah cara kita bermain. Tapi tidak bisa mengubah nilai dalam sebuah kepercayaan.

Mudah saja, jika kita tidak suka perannya, ya jangan dimainkan.

Kode Etik Peran dan Jati Diri

Menjadi diri sendiri adalah prinsip kejujuran yang sangat baik, namun prinsip ini sulit digunakan di dalam dunia sosial.

Sebab, setiap orang memegang peranannya sendiri sebagai profesi, posisi maupun persona mereka masing-masing.

Dengan itu adanya kode etik, etika, etiket dan norma yang berlaku. Agar setiap posisi berperan sesuai dengan aturan idealnya.

Setelah kembali ke rumah atau bertemu teman diluar jam kerja. Lepaskan peranan apapun yang sedang kita mainkan.

Artinya, ada porsi tersendiri dalam menyikapi sebuah permasalahan yang ada di depan kita. Kapan saatnya kita berperan sebagai seorang pemimpin, kapan saatnya kita berperan sebagai seorang teman.

Terlalu mendalami peran, menciptakan banyak bias pada sikap dan sudut pandang kita dalam dunia nyata. Terlalu jadi diri sendiri, menciptakan banyak kekacauan dalam dunia sosial kita. Sebab, tidak semua orang menerima diri kita apa adanya.

Beruntunglah jika peran yang kita mainkan sesuai dengan karakter asli kita sehari-hari. Namun pertanyaannya, apakah keadaan yang sesuai itu adalah keadaan yang membuat kita bertumbuh?

Jika jawabannya iya, maka jangan buang-buang waktu berlaga di tempat yang salah. Namun jika perbedaan tersebut justru membuat kita semakin bertumbuh, jangan ragu teruslah menggali potensi diri sampai batas kemampuan tertinggi.

Berikut teori kepemimpinan dasar yang dapat diambil dari profesi seorang pengemis.

Baca juga

Patut Dicoba, Usaha Modal Kecil Tahun 2022

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *